Apa Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga?

Pernikahan yang dibangun dan disepakati berdasarkan rasa saling percaya sering kandas ketika pasangan yang justru semestinya menjadi sosok yang paling dipercaya malah berubah 180 derajat menjadi sosok yang malah membahayakan dan sewaktu-waktu dapat mengancam harga diri serta bahkan nyawa.

Walau dalam KDRT semua pihak mengalami suatu masalah yang perlu diselesaikan, mereka yang di posisi sebagai korban kekerasanlah yang paling banyak menderita. Perlakuan penghinaan secara psikologis dan puncaknya adalah pada kekerasan fisik ialah pelecehan terhadap harga diri yang akan menggoreskan betapa luka yang pedihnya akan dirasakan dalam waktu lama. Belum lagi kalau kekerasan itu menimbulkan ancaman terhadap fisik bahkan ancaman sampai hilangnya nyawa.

Apa Penyebab Umum KDRT?


KDRT yang terjadi umumnya adalah disebabkan karena adanya konflik yang timbul dalam relasi pasangan. Konflik itu didasarkan adanya harapan dari salah satu atau kedua pihak yang pada kenyataannya malah tidak dapat terpenuhi. Tidak terpenuhinya harapan dalam suatu relasi suami dan istri adalah hal yang wajar, tapi dalam kasus KDRT tidak terpenuhinya harapan ini menjadi suatu kenyataan yang tak bisa diterima dengan kebesaran hati. Akibatnya pihak yang gagal dalam menerima kenyataan ini kemudian akan memunculkan suatu tindakan kekerasan pada pihak lain.

KDRT juga bisa disebabkan sebagai upaya satu pihak adalah si pelaku kekerasan untuk berusaha menunjukkan siapa yang berkuasa dalam sebuah relasi itu. Upaya ini jelas adalah tanda ketidakmatangan diri. Mereka yang dalam relasi berusaha ingin menunjukkan dan meyakinkan pada orang lain dan juga sebenarnya pada dirinya bahwa dialah orang yang berkuasa dalam relasi merupakan pertanda adanya inferioritas (perasaan merasa rendah diri). Inferioritas adalah hal yang tidak nyaman dirasakan sehingga pada orang yang tidak matang, perasaan ini akan di kelabuhi dengan cara usaha-usaha untuk menunjukkan dominasi dan kekuasaannya kepada orang lain.



Kekerasan dalam Rumah Tangga sebagai salah satu reaksi masalah


KDRT sebagai sebuah cara mengelabuhi perasaan inferior bisa juga merupakan hasil individu melihat model-model dalam kehidupan yang ada di masa lalunya. Jadi KDRT bisa dilihat juga sebagai suatu cara bereaksi terhadap adanya suatu masalah. Dalam kehidupannya di masa kini, banyak orang yang mencontoh cara bereaksi orang-orang penting dalam kehidupannya di masa lalu, yang umum adalah orangtua, ketika mereka menemui suatu masalah. Jika orang penting di masa lalu itu menggunakan cara-cara yang tidak adaptif, maka cara-cara ini lalu akan ditiru termasuk ketika seseorang berelasi dengan pasangannya. Bila di masa lalu, seseorang melihat orangtua mereka melakukan kekerasan, sebagai sebuah cara untuk bereaksi terhadap munculnya suatu masalah, maka cara ini mudah akan ditiru. Maka dari itu, KDRT bisa menjadi sebuah mata rantai yang panjang tidak terputus di sebuah keluarga dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Artinya anak-anak dari keluarga yang mengalami KDRT akan akan berpotensi besar mengadopsi cara-cara orangtuanya dalam menggunakan kekerasan saat mereka menghadapi suatu masalah dengan pasangan mereka saat di masa depan.

Menghadapi masalah KDRT itu memang tidaklah mudah. Jika kekerasan dilakukan oleh orang yang tak memiliki relasi dekat dengan kita, tidak akan ada beban berat bagi kita misalnya untuk melakukan langkah-langkah teknis dan juga hukum. Kita bisa memutuskan relasi atau mempidanakan si pelaku. Namun, dengan sosok yang berelasi secara dekat dengan kita, langkah-langkah itu jelas akan menjadi dilematis. Tidak mengherankan kalau dalam kasus KDRT terjadi banyak inkonsistensi. Relasi yang sudah diputuskan itu akan disambung kembali dan berkas yang telah dilaporkan ke polisi dicabut lagi. Hal ini bisa terjadi secara berulang-ulang.


KDRT Tak dapat ditolerir


Perlu dilihat apakah KDRT yang dilakukan sudah benar-benar tidak BISA ditolerir dalam arti akan mengancam kesejahteraan hidup korban secara signifikan atau bahkan sudah mengancam nyawanya. Apabila memang terjadi demikian, langkah-langkah teknis dan hukum yang tegas itu perlu dilakukan. Kalau kemudian korban memaafkan pelaku, hal itu adalah sisi lain yang positif dan berguna bahkan untuk korban sendiri. Namun, memaafkan tidak otomatis kemudian menerima begitu saja tindakan kekerasan yang dialaminya. Walau sudah memaafkan tindakan pelaku di masa lalu, bila memang ada potensi besar akan adanya ancaman di masa depan, maka korban perlu melindungi dirinya baik lewat langkah teknis maupun jalur hukum.

Hal lain yang perlu dipikirkan juga adalah melakukan konseling psikologi baik untuk korban maupun untuk pelaku. Bagi si pelaku, salah satu aspek penting dalam perbaikan diri yang harus dilakukan adalah dengan cara memperbaiki inferioritasnya serta kemampuan menahan diri untuk tidak melakukan hal hal atau cara-cara yang tidak adaptif berupa kekerasan karena tidak terpenuhinya suatu harapan di sebuah relasi. Di sisi korban, perlu ada perbaikan asertivitas untuk mempertahankan diri dan menyatakan ketidaksetujuan pada cara-cara yang tidak adaptif yang dilakukan oleh pelaku kekerasan. Menariknya adalah kalau seringkali korban juga akan berperan dalam terus berlanjutnya tindakan kekerasan. Dengan menjadi sosok yang dependen, korban, walau sering mengalami tindak kekerasan, membiarkan tindakan itu terjadi berulang-ulang karena sebenarnya korban tak mampu melepaskan diri dan menjadi mandiri dalam suatu relasi yang dilakukan dengan pelaku. Maka dari itu, perbaikan psikoogis perlu dilakukan baik dari sisi korban maupun dari sisi pelaku.

Penulis :
Y. Heri Widodo, M.Psi., Psikolog
Dosen Universitas Sanata Dharma dan Pemilik Taman Penitipan Anak Kerang Mutiara Yogyakarta

Sumber :
Liputan6.com

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Kuliah di S2 dan S3?

Apa itu Responsi?

Kuliah Jurusan Ilmu Gizi UNDIP