Tari Zaman Indonesia Hindu

Zaman Indonesia Hindu mulai sejak kedatangan pedagang-pedagang dari India yang menetap di Indonesia. Budaya India kemudian mempengaruhi budaya yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah pada seni tari yang merupakan salah satu bagian yang dianggap penting dalam sebuah upacara keagamaan pada masa zaman Hindu. Sebagai buktinya adalah dapat dilihat pada relief-relief yang terdapat pada candi yang menggambarkan ada penari-penari yang sedang menari. Pada Jaman Hindu ini ditandai dengan kerajaan Hindu tersebar yang ada di Jawa dan Sumatra, serta di daerah Kutai Kalimantan Timur dan kerajaan Tarumanegara yang ada di Jawa Barat pada abad ke 5, serta Kerajaan kerajaan Sriwijaya kuna di Sumatra Selatan pada abad ke 7.

Kebudayaan Jawa Hindu mencapai puncaknya di Jawa tengah pada abad ke 7 sampai abad ke 10. Hal itu ditandai dengan adanya dua dinasti yang telah memerintah dan mereka juga bersaing, yaitu Buddhis dan Shiwait sekitar abad ke 8 dan akhir abad ke 10. Para penyebar dari Budhisme adalah dinasti Syailendra yang kemudian mengembangkan kerajaan Sriwijaya yang telah berpusat di Sumatera dan menjadi kerajaan Raya. Kerajaan dinasti Shiwait yang mengggantikan dinasti Syailendra di Jawa dikenal dengan kerajaan Mataram.


kerajaan di Jawa Timur, yaitu Kediri, Singasari, dan Majapahit, telah melebarkan kekuasaan sampai meliputi bagian-bagian lain dari kepulauan, serta telah memberi pengaruh kuat pada perkembangn seni tari di Pulau Bali.

Pada Jaman Kediri (sekitar abad XII), pertunjukan tari topeng juga berkembang di dalam istana dengan istilah yang disebut dengan wayang wong, atapukan, patapelan dan raket. Cerita yang digunakan dalam pertunjukan topeng pada jaman Kediri itu menggunakan cerita Mahabarata dan  cerita Ramayana. Berkaitan dengan hal tersebut Poerbotjaroko memberikan penjelasan bahwa cerita Ramayana dan Mahabarata yang berkembang pada jaman Kediri. Pada jaman itu banyak cerita yang bersumber dari Ramayana dan Mahabarata, antara lain adalah Ardjunawiwaha, Gathukatjasraya,  dan Kresnayana.

Di jaman Majapahit pertunjukan tari topeng juga dikenal dengan sebutan beristilah atapukan, patapelan dan juga disebut raket.

Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk permainan topeng tersebut mengalami perkembangan dengan cukup baik. Hal itu dapat dilihat dari pertunjukan topeng yang dipentaskan di dalam istana untuk kepentingan pesta  pada kerajaan Majapahit yang ditarikan sendiri oleh sang Prabu Hayam Wuruk. Hal itu dipertegas oleh Mulyana dalam Nagara Kertagama yang menjelaskan bahwa Prabu Hayam Wuruk tampil ke depan untuk menari panjak.

Adapun syairnya antara lain adalah berbunyi, “Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak. Bergegas lekas panggung disiapkan di tengah mandapa. Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu. Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati”.

Kehidupan tari topeng tidak dapat berkembang dengan baik, sepeninggal dari Prabu Hayam Wuruk tahun 1939, dikarenakan sepeninggal dari Prabu Hayam Wuruk di Majapahit terjadi kericuhan yang berkisar pada masalah tentang perebutan tahta di kerajaan. Keadaan itulah yang mengakibatkan suramnya Majapahit.

Tahun 1478 M atau tahun 1400 Saka kekuasaan tahta kerajaan Majapahit bisa direbut oleh Dyah Girindra Wardana dengan membunuh Kerta Bumi yang ditandai dengan sengkalan ”Sirna ilang Kertaning Bumi”. Para penulis tradisi berpendapat jika Majapahit runtuh karena serangan R. Patah dari Demak tahun 1478 M. Runtuhnya Majapahit juga disebabkan karena faktor politik yaitu peranan agama Islam yang membuat takluknya Majapahit oleh kerajaan Demak.

Dengan runtuhnya dari kerajaan Majapahit bukan berarti bahwa tari topeng tidak bisa berkembang lagi loh.

Soedarsono mengatakan kalau di jaman Demak, Pajang dan Mataram drama tari topeng masih mengalami perkembangan yang baik. Pendapat di atas bisa dibuktikan, bahwa pada Susuhunan Mangkurat I setiap hari Sabtu diselenggarakan pertunjukan tari, di antaranya badut. Badut adalah pertunjukan komedi yang penarinya menggunakan topeng .

Di zaman Hindu, seni tari adalah salah satu bagian yang penting dalam upacara keagamaan.

Sebagai bukti dapat dilihat pada relief-relief yang ada di candi yang menggambarkan penari - penari yang sedang menari. Bukti tarian yang ada pada jaman Hindu itu dilukiskan dalam tiga urutan yang berbeda dari relief tinggi di candi Shiva. Pada sekeliling badan bawah ada 24 penjaga mata angin (lokapala). Ada beberapa dewa yang duduk ini diapit oleh para pelayan. Pada seri lain yang dipahatkan di dinding luar dari balustrade terdiri dari 62 penari dan musisi kawangan.

Ada rasa gerak yang hidup dan kadang-kadang sikap-sikap yang penuh dengan kegembiraan, berdasarkan pada momen - momen yang penting terkenal dalam tarian Shiva, sangat pentingnya momen tersebut hingga seluruh candi seolah-olah tercekam oleh ritme-ritme dari tarian mereka.

Setiap kelompok penari berhenti, diselingi dengan sekelompok tiga makhluk kahyangan yang berpose dalam sikap-sikap indah dan halus. Akhirnya pada sepanjang sisi dinding candi yang membentuk galeri dari kaki candi, telah dipahatkan cerita tentang Ramayana hingga saat ketika pasukan kera yang dipimpin oleh Hanuman telah menyeberangi samudera ke langka

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Kuliah di S2 dan S3?

Apa itu Responsi?

Kuliah Jurusan Ilmu Gizi UNDIP